Sabtu, 26 Mei 2012

Analisis Teori Philosophy of Money dalam Kasus Kampanye Politik


Analisis Teori Philosophy of Money dalam Kasus Kampanye Politik

Nama               : Syadza Alifa
NPM               : 1106001883
Jurusan            : Ilmu Kesejahteraan Sosial

            Georg Simmel, seorang sosiolog dari Jerman, mengembangkan sebuah ide tentang kekhususan fungsional, rasionalitas dan impersonalitas dalam hubungan sosial yang disimbolkan dan dipermudah dengan uang dalam karyanya yang berjudul “Philosophy of Money”. Buku ini tidak hanya sekedar menunjukkan ketertarikan Simmel pada uang, tetapi juga menunjukkan minatnya pada fenomena yang melekat dengan serangkaian pokok perhatian teoritis dan filosofis yang lebih luas. Ia tidak hanya tertarik pada uang tetapi juga pada dampaknya pada berbagai hal. Secara umum, Simmel melihat uang sebagai komponen kehidupan spesifik yang dapat membantu untuk memahami totalitas hidup.
            Buku The Philosophy of Money ini memiliki banyak kesamaa dengan karya Karl Marx karena Simmel juga memusatkan perhatian pada kapitalisme dan masalah yang ditimbulkan oleh ekonomi uang.  Tetapi juga terdapat beberapa perbedaan khususnya masalah perbedaan pandangan mengenai masalah ekonomi yang terjadi pada saat itu. Simmel melihat masalah ekonomi pada zamannya sekadar sebagai manifestasi spesifik dari masalah kebudayaan yang lebih umum, yaitu alienasi kebudayaan objektif (Poggi, 1993). Bagi Marx, masalah-masalah ini tak lain adalah masalah kapitalisme, namun bagi Simmel semua itu adalah bagian dari tragedi universal – meningkatnya ketidakberdayaan individu ketika terjadi pertumbuhan kebudayaan objektif. Analisis Marx secara historis bersifat spesifik, sementara analisis Simmel berusaha menyaripatikan kebenaran abadi ini dari dinamika sejarah manusia. Terjadinya perbedaan analisis tersebut disebabkan karena perbedaan politik antara Simmel dan Marx. Marx melihat bahwa masalah ekonomi terikat waktu, yaitu produk dari masyarakat kapitalis, oleh karena itu ia percaya bahwa akhirnya masalah tersebut dapat dipecahkan. Sementara itu, Simmel melihat masalah dasar ini melekat pada kehidupan manusia dan ia yakin tidak ada harapan bagi perbaikan di kemudian hari.
            Salah satu perhatian Simmel dalam karya Philosophy of Money ini adalah hubungan antara uang dengan nilai. Menurut Simmel, orang menciptakan nilai dengan menciptakan objek, memisahkan dirinya dari objek-objek tersebut dan selanjutnya berusaha mengatasi jarak, kendala dan kesulitan (Simmel, 1907/1978:66). Prinsip umumnya adalah bahwa nilai benda berasal dari kemampuan orang untuk menjarakkan dirinya secara tepat dari objek.
Uang dapat berperan untuk menciptakan jarak dengan objek dan menawarkan diri jadi sarana untuk mengatasi jarak tersebut. Nilai uang yang melekat pada objek dalam ekonomi modern menyebabkan kita berjarak darinya karena kita tidak dapat memperolehnya tanpa uang. Kesulitan untuk mendapatkan uang dan objek-objek tersebut menjadikannya bernilai bagi kita. Pada saat yang sama, sekali kita mendapatkan cukup banyak uang, kita mampu mengatasi jarak antara diri kita dengan objek. Dengan demikian, uang memiliki fungsi yang unik, menciptakan jarak antara orang dengan objek, kemudian menjadi sarana untuk mengatasi jarak tersebut.
Dalam proses menciptakan nilai, uang juga menyediakan dasar bagi berkembangnya pasar, ekonomi modern, dan akhirnya masyarakat (kapitalistis) modern (Poggi, 1996). Uang menyediakan sarana yang dapat digunakan elemen-elemen ini untuk mendapatkan kehidupan bagi dirinya sendiri yang bersifat eksternal dan memiliki daya paksa terhadap aktor. Hal ini bertentangan dengan masyarakat sebelumnya dimana barter atau perdagangan tidak mengarah pada dunia yang tereifikasi yang merupakan produk khas ekonomi uang.
        Terkait dengan interaksi, uang juga memungkinkan orang untuk mengatasi dan memenuhi kebutuhannya dalam transaksi ekonomi. Dan pada akhirnya hal tersebut juga akan memicu seseorang untuk terlibat interaksi dengan orang lain  dalam usahanya memenuhi kebutuhannya yang dilakukan dengan cara bertransaksi dengan menggunakan uang.
Uang juga dapat mempengaruhi dan mempertinggi kebebasan individu,  terlebih bagi mereka yang mempunyai cukup uang. Gaya hidup individu mulai  mengalami pergeseran, tidak lagi terlalu banyak ditentukan oleh kebiasan dan tradisi , akan tetapi gaya hidup individu lebih ditentukan karena sumber-sumber keuangan yang mereka miliki untuk membeli perlengkapan-perlengkapan yang perlu untuk gaya hidup yang sudah mereka tentukan.          
Masyarakat tempat uang menjadi tujuan itu sendiri, yang benar-benar menjadi tujuan akhir, melahirkan sejumlah efek negatif pada individu (Beilharz, 1996), yang dua diantaranya yang paling menarik adalah meningkatnya sinisme dan sikap acuh. Sinisme terjadi ketika aspek tertinggi dan terendah kehidupan sosial diperjualbelikan, direduksi menjadi alat tukar umum yaitu uang. Jadi kita dapat “membeli” kecantikan atau kebenaran atau kecerdasan semudah membeli camilan. Meningkatnya segala hal menjadi alat tukar umum mengarah pada sikap sinis bahwa segala hal memiliki harga, bahwa apapun dapat dijual atau dibeli di pasar. Ekonomi uang juga mengakibatkan sikap acuh, “semuanya sebagai hal yang sama-sama tumpul dan berwarna abu-abu, bukan sebaga sesuatu yang menarik perhatian” (Simmel, 1907/1978:256). Orang yang acuh sepenuhnya kehilangan kemampuan untuk membedakan nilai diantara sejumlah objek yang dibeli. Pada konteks yang sedikit berbeda, uang adalah musuh mutlak estetika, yang mereduksi segala hal menjadi fenomena tanpa bentuk dan murni kuantitatif.
Dalam pengamatan Simmel, manusia modern telah menjadikan uang sebagai tujuan utama, padahal sebetulnya uang hanya merupakan sarana. Bersamaan dengan itu, muncullah dampak-dampak negative terhadap individu, seperti sinisme. Dampak ekonomi lainnya adalah reduksi nilai-nilai dalam kehidupan manusia, misalnya : banyak manusia yang menilai sesuatu banyak berdasarkan uang, dan menganggap uang adalah segala-galanya. Selain menunjukkan dampak negatif dari fenomena uang, Simmel juga menegaskan semua yang terkait dengan uang termasuk dampak negative nya juga tergantung pada manusia itu sendiri. Akan tetapi dia juga mengatakan bahwa uang hanyalah sarana, bukan tujuan utama.
Menurut Simmel, uang juga berdampak pada gaya hidup seseorang. Masyarakat yang didominasi oleh ekonomi uang akan cenderung mereduksi segala hal menjadi tali penghubung kausal yang dapat dipahami secara intelektual, bukan secara emosional. Bentuk spesifik intelektualitas yang cocok yaitu cara pikir matematis. Cara pikir matematis ini terkait dengan kecenderungan untuk menekankan faktor kuantitatif ketimbang kualitatif dalam dunia sosial.
Dampak uang pada gaya hidup seseorang adalah tumbuhnya kebudayaan objektif yang mengorbankan kebudayaan individu. Kesenjangan antar keduanya akan semakin lebar. Kesenjangan ini disebabkan meningkatnya pembagian kerja di masyarakat modern (Oakes, 1984:19). Meningkatnya spesialisasi mengarah pada perbaikan kemampuan untuk menciptakan beragam komponen dunia budaya. Namun, individu yang terspesialisasi akan kehilangan pemahaman akan kebudayaan total dan kehilangan kemampuan untuk mengendalikannya.
Selain itu, ekonomi uang mengarah pada peningkatan perbudakan individu. Individu di dunia modern menjadi teratomisasi dan terisolasi. Tidak lagi terikat pada suatu kelompok, individu berdiri sendiri di hadapan kebudayaan objektif yang terus-menerus meluas dan semakin koersif. Individu di dunia modern diperbudak oleh kebudayaan objektif yang begitu masif. Ekonomi uang juga mengakibatkan terjadinya reduksi nilai manusia menjadi ‘dolar’, sehingga adanya kecenderungan mereduksi nilai manusia menjadi ekspresi moneter.
Uang juga dapat menyebabkan perubahan pola interaksi. Misalnya, pada zaman dahulu, ketika belum terdapat uang maka orang akan melakukan kegiatan ekonomi (jual beli) dengan cara barter, tetapi setelah kemunculan uang sebagai alat tukar, masyarakat merasa lebih mudah melakukan kegiatan ekonomi dan transaksi perdagangan, karena membawa uang jauh lebih mudah dan praktis dibandingkan dengan cara lama yaitu barter yang dianggap lebih rumit dan standarnya yang tidak jelas. Pertukaran ekonomi menurut Simmel juga merupakan suatu interaksi sosial. Ketika transaksi moneter menggantikan barter, maka terjadi perubahan penting dalam bentuk interaksi atau pelaku sosial dalam kehidupan masyarakat.
Efek negatif lain ekonomi uang adalah makin merebaknya hubungan impersonal antarorang. Alih-alih berhubungan dengan individu sebagai pribadi, kita semakin cenderung hanya berhubungan dengan posisi, terlepas dari siapa yang menduduki posisi tersebut. Dalam pembagian kerja modern yang ditandai dengan ekonomi uang, kita menghadapi situasi paradoks bahwa kendati kita semakin tergantung pada posisi lain agar dapat bertahan hidup, kita semakin kurang mengenal orang yang menduduki posisi tersebut. Individu yang mengisi posisi tertentu menjadi semakin tidak penting. Kepribadian cenderung sirna dibalik posisi yang hanya menghendaki sebagian kecil dirinya. Karena begitu sedikit yang diinginkan, individu-individu dapat mengisi posisi sama. Kemudian orang menjadi bagian-bagian yang dapat saling dipertukarkan.
Pada akhirnya, uang menjadi simbol dan faktor utama, dalam perkembangan mode eksistensi relativistik. Uang memungkinkan kita untuk mereduksi fenomena yang sangat berbeda menjadi sejumlah dolar, dan hal ini mungkin diperbandingkan satu sama lain. Dengan kata lain, uang merelatifkan segalanya. Namun, ekonomi uang juga tidak hanya memiliki efek negatif, tetapi juga memiliki semacam aspek membebaskan (Beilharz, 1996; Levine,1981b,1991b; Poggi, 1993). Pertama, ekonomi uang memungkinkan kita semakin banyak berhubungan dengan orang di pasar yang berkembang jauh lebih pesat. Kedua, kewajiban kita terhadap sesama sangat terbatas (untuk jasa atau produk tertentu) ketimbang mencakup seluruhnya. Ketiga, ekonomi uang memungkinkan orang memperoleh kepuasan yang tidak tersedia pada sistem ekonomi sebelumnya. Keempat, orang memiliki kebebasan dalam lingkungan tersebut untuk mengembangkan individualitasnya secara menyeluruh. Kelima, orang lebih mampu memelihara dan melindungi pusat subjektif mereka, karena mereka hanya terlibat pada hubungan yang terbatas. Keenam, pemisahan pekerja dari sarana produksi, seperti ditegaskan Simmel, memungkinkan individu mendapatkan kebebasan yang sama dari kekuatan-kekuatan produktif tersebut. Ketujuh, ekonomi uang membantu orang semakin bebas dari kekangan kelompok sosial mereka.
Jadi secara garis besar, dalam karyanya Philosophy Of Money Simmel mencoba menganalisis mengenai pengaruh adanya uang sebagai alat tukar terhadap perubahan gaya hidup manusia.  Sebab utama meningkatnya kesenjangan ini adalah meningkatnya pembagian kerja di masyarakat modern. Meningkatnya spesialisasi dalam kehidupan masyarakat mengarah pada perbaikan kemampuan untuk menciptakan beragam komponen dunia budaya. Namun, pada saat yang sama, individu yang terspesialisasi kehilangan pemahaman tentang kebudayaan total dan kehilangan kemampuan untuk mengendalikannya.
Pentingnya uang bagi manusia bisa dilihat dalam kasus kampanye calon pemimpin legislatif/eksekutif. Banyak sekali ditemukan calon pemimpin legislatif yang menggunakan uang sebagai alat untuk berinteraksi dengan masyarakat. Pertama, dilihat dari fungsi uang menurut Simmel yaitu untuk mempertinggi kebebasan individu. Disini dapat kita lihat pada saat kampanye calon pemimpin yang menggunakan beragam kegiatan seperti acara hiburan rakyat, pemberian santunan kepada masyarakat miskin, acara makan-makan bersama, dan lain-lain. Dalam hal ini, seorang calon pemimpin yang memiliki uang banyak tentunya dapat dengan sesukanya mengadakan acara untuk menarik perhatian masyarakat. Uang digunakan untuk mendekatkan sang calon pemimpin dengan masyarakat. Melalui aksi seperti pembagian uang untuk rakyat dan acara hiburan rakyat dapat terlihat bahwa interaksi yang tercipta antara calon pemimpin dengan masyarakat adalah karena adanya uang sebagai perekat diantara mereka. Seandainya sang calon pemimpin tidak memiliki cukup uang sehingga tidak dapat menawarkan acara-acara seperti diatas, maka besar kemungkinan calon tersebut tidak cukup dipilih atau diminati oleh masyarakat (kecuali jika orang tersebut adalah tokoh yang kharismatik).
Dapat dikatakan bahwa adanya usaha untuk membeli suara pendukung dengan memberikan sejumlah uang baik secara langsung maupun tidak langsung. Akibatnya akan terjadi sinisme karena pilihan demokratis masyarakat diperjualbelikan dan direduksi nilainya menjadi uang., direduksi menjadi alat tukar umum yaitu uang. Jadi kita dapat “membeli” suara rakyat dengan mudah, semudah membeli gorengan di warung. Hal ini akan mengarah pada sikap sinis bahwa segala hal memiliki harga, sehingga apapun dapat dijual atau dibeli di pasar, termasuk pilihan politis sekalipun.
Ketika proses kampanye, para calon biasanya mendatangi daerah-daerah strategis dan melakukan proses interaksi dengan masyarakat. Tak jarang terjadi suatu proses interaksi yang hanya berupa basa-basi dengan masyarakat yang dalam teori Simmel disebut Sosiabilita. Sosiabilita merupakan interaksi yang terjadi demi interaksi itu sendiri dan bukan untuk tujuan lain. Harapan dari diadakannya silaturahim ke daerah-daerah yaitu terjadinya interaksi antara calon dan masyarakat, tetapi interaksi tersebut tidak terbatas pada masalah praktis sehari-hari. Mereka tidak memiliki “isi” kehidupan sehari-hari yang sama, hubungan mereka karena kehadiran mereka bersama yang sementara sifatnya. Mungkin sang calon akan menanyakan kabar, atau bersenda gurau tentang keadaan cuaca pada hari itu agar terlihat menarik di depan masyarakat, meskipun mereka sebenarnya mengetahui bahwa mereka tidak membutuhkan informasi itu dan mereka mengetahui hal itu.
Ketika kampanye, suatu saat terjadi pencopotan spanduk atau baliho oleh pihak lawan, kemudian diketahui oleh orang-orang yang sedang berada di sekitar wilayah tersebut. Maka orang-orang yang awalnya sedang melakukan kegiatan masing-masing akan mulai berbicara dengan orang-orang di sekitarnya dan membicarakan aksi orang yang mencopot atribut. Disanalah muncul sebuah masyarakat. Dalam hal ini, masyarakat (pada tingkat sosietalisasi) yang muncul akan sangat rapuh dan sementara sifatnya, dimana ikatan timbal baliknya itu bersifat sementara saja. Proses terjadinya ‘masyarakat’ ini disebut sosiasi. Sosiasi merupakan proses dimana masyarakat itu terjadi yang meliputi interaksi timbal balik dimana individu saling berhubungan dan saling mempengaruhi sehingga masyarakat itu muncul. Namun demikian, proses sosiasi bermacam-macam, mulai dari pertemuan sepintas lalu antara orang-orang asing di tempat-tempat umum sampai ke ikatan persahabatan yang lama dan intim. Masyarakat ada (pada tingkatan tertentu) dimana dan apabila sejumlah individu terjalin melalui interaksi dan saling mempengaruhi.
            Seorang calon pemimpin legislatif/eksekutif biasanya didukung oleh partai-partai koalisi yang mengusung mereka. Semakin besar dan kuat partainya, maka dukungan terhadap calon tersebut kemungkinan akan lebih besar daripada partai lain yang berjumlah sedikit. Seorang calon bisa diusung oleh lebih dari 1 partai politik untuk lebih memperkuat dukungan, misalnya 2 atau 3 partai yang akhirnya berkoalisi untuk berjuang memenangkan pemilihan.
Dalam hal ini, terjadi sebuah pembentukan koalisi yang merupakan proses sosial yang mungkin terjadi hanya dalam hubungan yang mencakup lebih dari 2 pihak. Pembentukan koalisi terjadi dalam suatu kelompok kecil seperti kelompok tigaan (triad) dan juga dalam sistem sosial yang lebih besar. Koalisi dapat diharapkan terbentuk antara orang-orang yang tidak mampu mencapai hasil yang diinginkan  secara sendirian, kecuali kalau mereka bergabung dalam tindakan yang menjamin tercapainya hasil-hasil itu. Harus ada tingkat kemampuan minimal atau kesepadanan antara hasil-hasil dari para anggota koalisi itu. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa dalam pengusungan calon oleh beberapa partai politik membutuhkan kesepadanan dalam pandangan, pemikiran dan langkah agar koalisi tidak terpecah sehingga sang calon tidak kehilangan dukungan.


            Kesimpulan dari analisis kasus kampanye politik ini yaitu uang dapat menjadi alat interaksi penting untuk mendekatkan jarak antara calon dengan masyarakat. Sang calon yang umumnya memiliki banyak dana memiliki kebebasan untuk membuat acara-acara menarik yang akan mewarnai kampanyenya. Namun upaya ini akan menimbulkan sinisme pada diri calon bahwa ia dapat dengan mudah membeli suara masyarakat. Dalam proses kampanye itu pula, terjadi hubungan-hubungan yang oleh Simmel disebut sosiabilita, sosiasi, dan triad (pembentukan koalisi). Jadi, kasus kampanye politik ini selain dapat dikaitkan dengan teori filosofi uang, juga dapat dikaitkan dengan teori Simmel lainnya mengenai interaksi.

Daftar Pustaka :
Ritzer, George, Douglas J.Goodman. 2004. Teori Sosiologi. New York : Kreasi Wacana.
Johnson, Doyle Paul. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern Jilid 1.Jakarta : PT Gramedia.
Johnson, Doyle Paul. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern Jilid 2.Jakarta : PT Gramedia.
http://crewetsbit.blogspot.com/2011/12/teori-george-simmel.html (tanggal 11 April 2012)

Minggu, 06 Mei 2012

TEORI SISTEM TERBUKA


ANALISIS SIKLUS UMPAN BALIK DALAM PENGALAMAN HIDUP
oleh Syadza Alifa, 1106001883

Penilaian mengenai umpan balik dalam hubungannya denga tujuan yang diinginkan, dapat berpengaruh macam-macam terhadap perilaku. Pada tingkat individual, apakah suatu perilaku tertentu itu diulangi atau diubah, akan dipengaruhi oleh tipe umpan balik yang diterima. Pada umumnya, kita dapat mengharapkan bahwa umpan-balik positif (seperti yang dinyatakan dalam tercapainya tujuan dengan baik) akan memperkuat suatu perilaku tertentu atau memperbesar kemungkinan bahwa perilaku ini akan terulang kembali. Sebaliknya, umpan balik negatif dapat diharapkan merangsang perubahan perilaku.[1]
Salah satu proses dalam siklus umpan-balik yaitu proses morfogenik. Proses morfogenik mengacu pada siklus umpan-balik positif dimana penyimpangan dipandang dapat memperkuat suatu sistem. Siklus umpan-balik positif dimulai ketika suatu penyimpangan atau variasi dari suatu pola yang sudah mapan diperkuat, yang dengan demikian merangsang penyimpangan selanjutnya ke arah yang sama. Penyimpangan awal bisa hanya kecil dan tanpa ada pengaruhnya yang berarti untuk sistem. Namun, penyimpangan tersebut justru mengarahkan pada proses perubahan kumulatif. Artinya, dukungan positif terhadap penyimpangan kecil yang awal itu, merangsang suatu penyimpangan yang agak lebih besar dalam arah yang sama. Penyimpangan tambahana ini, jika diikuti oleh suatu penyimpangan yang lebih besar lagi dan seterusnya.
Siklus umpan-balik positif ini tercakup dalam pembentukan subkultur alternatif atau subkultur para penyimpang. Model pembentukan subkultur menyimpang ini sebagai produk dari siklus umpan-balik positif sejalan dengan teori cap (labelling theory). Menurut perspektif ini, individu yang didefinisikan dengan cara yang negatif sebagai orang yang inferior atau menyimpang, sebenarnya memasukkan definisi ke dalam konsep dirinya dan kemudian bertindak dengan cara yang mengungkapkan konsep dirinya ini. Singkatnya, mendefinisikan seseorang sebagai penyimpang memperkuat penyimpangan individu tersebut.[2]
Pengalaman hidup yang pernah saya alami berkaitan dengan proses morfogenik yakni ketika saya memasuki dunia rohis SMA dan menjadi pengurusnya. Awalnya, sejak SD-SMP saya merupakan orang biasa yang berpenampilan tomboy, “ber-Islam” seadanya meskipun sudah memakai jilbab dan termasuk orang yang sering “main” (main ke rumah teman/jalan-jalan). Namun ketika menginjak bangku SMA, saya tertarik ketika melihat senior-senior perempuan yang memakai jilbab panjang dan rapi serta aktif dalam rohis. Akhirnya ketika pemilihan ekstrakulikuler, saya memilih ikut organisasi yang merupakan rohis di SMA saya yaitu DKM Al-Ma’wa.
Ketika awal bergabung dengan DKM Al-Ma’wa, tujuan saya hanya satu yaitu ingin mencari teman-teman pergaulan yang baik. Awalnya teman-teman saya kaget melihat keaktifan saya di DKM. Beberapa ada yang mendukung khususnya orangtua dan sahabat dekat, tetapi ada juga yang mencemooh. Ketika saya memantapkan diri untuk berjilbab lebih baik, saya sering dipandang “sok alim” oleh beberapa  orang. Apalagi ketika itu, setiap anggota rohis wajib mengisi tausyiah ke setiap kelas, sehingga tak jarang ada orang yang merendahkan atau merasa pemateri sebagai orang “sok alim”. Orang-orang pun kerap memanggil saya “Teteh[3] Syadza” atau “Bu Ustadzah”. Kadang ketika saya melewati sekumpulan orang, orang-orang tersebut seketika mengucapkan “Assalamu’alaikum!”. Meskipun saya tidak tahu niat mereka mengucapkan salam atau memberikan label tersebut, tetapi saya merasa senang. Melihat sikap orang-orang yang seperti itu justru semakin membuat saya berusaha menunjukkan sikap muslim yang baik dan berusaha mengidentifikasikan diri saya seperti label yang saya dapatkan.
Jika dianalisis menurut proses morfogenik, perubahan kecil yang dialami terus bertambah akibat dari dukungan positif yang didapatkan. Perubahan kecil yaitu dengan mengikuti rohis menyebabkan saya berjilbab lebih baik dan mengatur tingkah laku lebih baik juga, sehingga terjadi perubahan kumulatif dalam sistem kehidupan saya. Penyimpangan yang saya lakukan justru memperkuat sistem
Proses morfogenik yang saya alami juga sejalan dengan teori Labelling, dimana ketika saya mendapat label “Bu Ustadzah” dan “Teteh Syadza”, saya justru memasukkan definisi tersebut  ke dalam konsep diri saya dan bertindak sesuai dengan konsep diri tersebut.  

Daftar Pustaka :
Johnson, Doyle Paul. 1986. Teori Sosiologi Klasik dan Modern Jilid 2.Jakarta : PT Gramedia.



[1] Johnson, “Teori Sosiologi Klasik dan Modern”, Bab XII, hlm. 247-248
[2] Johnson, “Teori Sosiologi Klasik dan Modern”, Bab XII, hlm. 253
[3] Panggilan umum orang Sunda untuk perempuan yang lebih tua dan biasanya dihormati

Jumat, 04 Mei 2012

Pengalaman Military Camp UISDP 2012

                                    PENGALAMAN MENGIKUTI MILITARY CAMP
oleh Syadza Alifa, 1106001883
Ilmu Kesejahteraan Sosial FISIP UI 2011

            Pada saat akhir acara pertemuan UISDP di Perpustakaan Pusat lantai 5, panitia memberi tahu akan mengadakan Military Camp di Bogor yang wajib diikuti seluruh peserta UISDP. Mendengar nama “Military Camp”, seketika yang terbayang langsung latihan fisik yang berat, outbond, perang-perangan dan jelajah alam. Panitia juga memberi menu latihan fisik setiap hari agar tubuh lebih kuat, tidak cepat lemas dan adaptif terhadap kondisi dan kegiatan fisik disana. Sempat bergumam dalam hati, “Duh, kuat nggak yah?jangan-jangan nanti karugrag[1],tugas juga banyak yang belum dikerjain.Saat itu, memang ada beberapa tugas yang harus dikerjakan baik tugas kuliah dan tugas organisasi dengan deadline waktu yang bertepatan dengan Military Camp.
            Kemudian setelah melewati proses berpikir, akhirnya bismillah saya menguatkan tekad untuk ikut Military Camp. Pada saat hari-H keberangkatan, saya baru membereskan barang-barang setelah kuliah pagi. Otomatis pada saat itu, saya sibuk membereskan barang-barang secepat mungkin karena pukul 13.40 sudah harus berkumpul di belakang Balairung. Setelah semua perlengkapan beres, saya segera meluncur ke balairung dengan menaiki ojek karena waktu yang sangat sempit. Alhamdulillah tiba di tempat pas pukul 13.40, saya sedikit bernapas lega karena tidak telat datang.
            Setelah semuanya berkumpul, kemudian diadakan briefing keberangkatan. Pukul 14 lebih sedikit kami berangkat dengan menggunakan 2 buah bis kuning. Perjalanan relatif lancar. Kami berhenti sejenak di sebuah mesjid untuk menunaikan sholat Ashar dan kembali meneruskan perjalanan sekitar pukul 16 lebih. Sekitar pukul 17 kami tiba di daerah Cikoneng dan harus mendaki dataran tinggi dengan jalan berbatu di depan kami. Hingga akhirnya tiba di barak pukul 17 lewat dan langsung mempersiapkan upacara. Kegiatan pertama kami di Military Camp yaitu mendengarkan materi dari Pak Arief Munandar[2] tentang nasionalisme yang sangat menggugah perasaan dan pemikiran kami. Mendengarkan materi tersebut membuat kami sadar bahwa banyak sekali hal yang tidak kami ketahui tentang bangsa ini. Namun, itu menjadi motivasi bagi kami untuk terus mencari pengetahuan sebanyak-banyaknya dan tentunya berkontribusi bagi bangsa.          
            Setelah mendengar materi dari Pak Arief, kemudian diadakan discussion group yang membahas 4 materi diantaranya tentang ekonomi, pendidikan, sosial budaya yang dikaitkan dengan nasionalisme dan kontribusi yang akan diberikan dalam bidang tersebut. Karena saya berada di kelompok yang membahas ekonomi, maka usulan kontribusi yang kami kemukakan adalah pendekatan personal kepada para pelaku ekonomi mikro dan memberikan wawasan pengetahuan kepada mereka agar usaha mereka semakin maju. Selesai discussion group, kami diberi waktu untuk istirahat beberapa jam di barak. Waktu istirahat tersebut tidak bisa dimanfaatkan maksimal karena ada tugas hukuman dari Pak Arief yang harus dikerjakan sebelum tidur. Setelah selesai, kami semua tertidur dengan menahan dingin yang menusuk tulang.
            Sekitar pukul 02.00, kami dibangunkan oleh panitia untuk menjalani penempaan fisik yang dipimpin oleh Bang Chandra dan Bang Fadlan dari TNI AD. Setelah menjalani penempaan fisik, kami dipersilakan untuk menunaikan sholat tahajud hingga waktu shubuh menjelang. Setelah melaksanakan sholat shubuh, kami menjalani penempaan fisik lagi hingga pukul 07.00. Pukul 07.00 lebih, kami diberikan waktu untuk sarapan sekitar 5 menit. Setelah sarapan, kami bersiap-siap melakukan outbond. Tim yang akan berangkat outbond terlebih dahulu harus memenangkan kuis tentang nasionalisme. Sayangnya, kelompok saya menjadi juara ke-3 sehingga berangkat di urutan ketiga.
            Perjalanan selama outbond sangat menakjubkan. Kami melihat pemandangan alam yang sungguh asri, udara yang sejuk dan berinteraksi dengan warga sekitar. Alhamdulillah di setiap pos yang kami lewati, kami berhasil mendapat nilai yang baik sehingga berhak mendapat poin yang akan digunakan untuk membeli senjata perang gerilya. Kami pun membeli semua peralatan dengan lengkap dan mengatur posisi markas di tempat yang strategis.
            Kemudian perang gerilya dimulai. Kelompok saya lebih banyak melakukan strategi defense (pertahanan) daripada offense. Letak markas kami yang berada di dataran tinggi juga sedikit menghambat kelompok lain untuk menyerang. Kelompok saya sempat ditegur panitia karena sebagian besar berdiam di dekat markas dan tidak melakukan penyerangan seperti yang lainnya. Waktu berlalu, peperangan pun usai namun kelompok saya tidak berhasil menjadi juara. Namun, kami tetap bersyukur karena kami telah berhasil melakukan usaha terbaik kami.
            Usai perang gerilya, kami diberikan waktu untuk istirahat sampai waktu sholat Maghrib. Badan kami terasa sangat lelah, namun tetap bersemangat mengikuti rangkaian acara selanjutnya. Setelah sholat dan makan,  kami menonton sebuah film perjuangan yang berjudul Darah Garuda. Kami pun menonton film tersebut selama kurang lebih 2 jam. Film tersebut benar-benar luar biasa dan menginspirasi. Kami semakin sadar bahwa perjuangan yang dilakukan para pahlawan kita terdahulu sangat hebat, berjuang hingga titik darah penghabisan. Setelah menonton film itu, kami merasa tidak boleh menyianyiakan perjuangan para pahlawan dan harus semakin berjuang untuk bangsa Indonesia yang kami cintai ini. Kemudian kami diberi waktu untuk istirahat sampai pukul 02.00 karena ada diadakan acara malam integrasi pemuda.
            Waktu menunjukkan sekitar pukul 02.30, kami dibangunkan untuk mengikuti acara malam integrasi pemuda. Kami duduk di lapangan dan diterangi cahaya obor dan api unggun yang berada di tengah lingkaran. Acara integrasi pemuda ini diisi oleh Bang Akhyar, mahasiswa Magister Psikologi. Kami diberikan pencerahan mengenai kondisi bangsa saat ini dan dimotivasi untuk melakukan perubahan. Malam integrasi pemuda ini berakhir ketika adzan Shubuh berkumandang dan kami segera menunaikan sholat.
            Setelah menunaikan sholat, kami mendapat penempaan fisik lagi yang dipimpin Bang Chandra dan Bang Fadlan. Penempaan fisik kemudian selesai pukul 07.00 dan dilanjutkan acara sarapan pagi. Karena hari Minggu adalah hari terakhir Military Camp maka tidak ada kegiatan lain lagi selain sesi sharing panitia dan peserta serta  pengumuman pemenang dan peserta terbaik. Peserta terbaik yang terpilih adalah Arief Febriyani dan kelompok terbaik adalah kelompok 4. Meskipun saya dan kelompok saya tidak menang, tetapi kami tetap bersyukur dan berharap semoga pada kesempatan lain kami bisa menjadi juara.
            Alhamdulillah acara Military Camp telah selesai dan berjalan dengan baik. Setelah melewati perjalanan beberapa jam, kami tiba di Depok dan bersiap menyambut hari esok dengan semangat dan nilai-nilai yang kami dapatkan dari Military Camp. Military Camp ini benar-benar memberikan kesan bagi saya, umumnya bagi seluruh peserta UISDP 2012. Kami mendapatkan nilai kedisiplinan, tanggungjawab, kerjasama, nasionalisme dan kerja keras. Semoga manfaat yang kami dapatkan dari Military Camp bisa kami aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.


[1] Kata bahasa Sunda yang artinya jatuh sakit.
[2] Pak Arief Munandar adalah salah satu pembina ILDP dan UISDP.