Minggu, 13 Januari 2013

Faktor-faktor yang Menghambat Nelayan Keluar dari Kemiskinan


Indonesia dikenal sebagai Negara dengan kekayaan alam yang melimpah. Kekayaan alam di daratan maupun di lautan yang terbentang luas dari Sabang hingga Merauke merupakan sumber daya alam yang potensial untuk dimanfaatkan bagi kemakmuran bangsa. Namun sayangnya tidak seluruh penduduk Indonesia merasakan kekayaan alam Indonesia, bahkan ada golongan masyarakat yang paling terpinggirkan. Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2008, penduduk miskin di indonesia mencapai 34,96 juta jiwa dan 63,47 persen % di antaranya adalah masyarakat yang hidup di kawasan pesisir dan pedesaan. Lebih dari 22 persen dari seluruh penduduk Indonesia justru berada di bawah garis kemiskinan dan selama ini menjadi golongan yang paling terpinggirkan karena kebijakan dalam pembangunan yang lebih mengarah kepada daratan. Menurut Prof Purbayu, pakar ekonomi pembangunan, kekayaan alam Indonesia menduduki peringkat atas. Namun ironisnya kelimpahan dan kekayaan itu tidak membawa kesejahteraan rakyat, khususnya nelayan. Kondisi kemiskinan semakin hari semakin bertambah, terutama nelayan di pesisir pantai. Prof. Herman Soewardi, Para pakar ekonomi sumberdaya melihat kemiskinan masyarakat pesisir, khususnya nelayan lebih banyak disebabkan karena faktor-faktor sosial ekonomi yang terkait karakteristik sumberdaya serta teknologi yang digunakan. Faktor-faktor yang dimaksud membuat sehingga nelayan tetap dalam kemiskinannya.
Kemiskinan di komunitas nelayan masuk dalam kategori kemiskinan kultural dan kemiskinan struktural. Panayotou (1982) mengatakan bahwa nelayan tetap mau tinggal dalam kemiskinan karena kehendaknya untuk menjalani kehidupan itu (preference for a particular way of life). Pendapat Panayotou (1982) ini dikalimatkan oleh Subade dan Abdullah (1993) dengan menekankan bahwa nelayan lebih senang memiliki kepuasaan hidup yang bisa diperolehnya dari menangkap ikan dan bukan berlaku sebagai pelaku yang semata-mata beorientasi pada peningkatan pendapatan. Kemiskinan karena preference for a particular way of life ini disebut kemiskinan kultural.
SementaraKemiskinan struktural adalah kemiskinan yang diderita suatu golongan masyarakat, karena struktur sosial masyarakat itu tidak dapat ikut menggunakan sumber-sumber pendapatan yang sebenarnya tersedia bagi mereka. Secara teoritis, kemiskinan struktural dapat diartikan sebagai suasana kemiskinan yang dialami oleh suatu masyarakat yang penyebab utamanya bersumber, dan oleh karena itu dapat dicari pada struktur sosial yang berlaku adalah sedemikian rupa keadaannya, sehingga mereka yang termasuk ke dalam golongan miskin tampak tidak berdaya untuk mengubah nasibnya dan tidak mampu memperbaiki hidupnya. Struktur sosial yang berlaku telah melahirkan berbagai corak rintangan yang menghalangi mereka untuk maju. Umpamanya kelemahan ekonomi tidak memungkinkan mereka untuk memperoleh pendidikan yang berarti agar bisa melepaskan diri dari kemelaratan. Struktur lainnya yang menyebabkan kemiskinan yaitu tingkat pendidikan, program pemerintah yang tidak ramah neayan, kondisi alam, pola hidup ne. Inti dari masalah yang berhubungan dengan kemiskinan sebenarnya terletak pada apa yang dise but dengan deprivation trap atau perangkap kemiskinan. Secara rinci, deprivation trap terdiri dari lima unsur: (1) kemiskinan itu sendiri; (2) kelemahan fisik; (3) keterasingan atau kadar isolasi; (4) kerentanan; dan (5) ketidakberdayaan. Kelima unsur ini seringkali saling berkait satu dengan yang lain sehingga merupakan perangkap kemiskinan yang benar - benar berbahaya dan mematikan peluang hidup orang atau keluarga miskin.[1]
Daftar Pustaka :

Tidak ada komentar:

Posting Komentar